BeritaEkonomi

Tiga Kondisi Ini Jadi Rahasia Indonesia Tahan Guncangan Krisis

Madinaworld.id – Di tengah tekanan perekonomian global, Sri Lanka mengalami krisis terburuk dalam sejarah ekonomi negara yang terletak di pesisir tenggara India tersebut. Peristiwa ini seakan menjadi peringatan awal, akan kemungkinan terjadinya krisis serupa di negara-negara lain.

Anggota Komisi XI DPR RI Hendrawan Supratikno meyakini bahwa krisis yang terjadi di Sri Lanka tidak akan terjadi di Indonesia.

“Indonesia agak beruntung karena memiliki tiga kondisi yang jarang dimiliki oleh negara lain yang saat ini krisis,” ungkap Hendrawan seperti dikutip dari laman resmi DPR RI.

Adapun kondisi yang dimaksud Hendrawan ialah sebagai berikut:

Faktor pertama, pasar domestik di Indonesia sangat besar.

Dengan populasi sebanyak 270 juta penduduk, Hendrawan meyakini bahwa hal tersebut dapat menjadi ‘bantalan’ ekonomi saat pertumbuhan ekonomi melemah.

“Karena pasar yang besar memberikan peluang kepada industri untuk bergerak atau hidup, meskipun dalam kapasitas industri yang tidak begitu maksimal karena pengaruh ekonomi global tadi,” ungkap Hendrawan.

Faktor kedua, Indonesia memiliki komoditas ekspor non-migas yang beragam di pasar global.

Berdasarkan data per November 2021, ekspor non-migas masih mendominasi total ekspor Indonesia. Kelapa sawit, batu bara, karet, kopi, teh, dan kakao menjadi komoditas unggulan dalam ekspor non-migas Indonesia.

Adapun negara tujuan ekspor komoditas tersebut di antaranya China, India, Filipina, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan lainnya.

“Ketika ekspor kayu menurun, tetapi tiba-tiba batu bara naik, kelapa sawit naik, nikel naik dan seterusnya. Tidak seperti Sri Lanka yang ekspornya terbatas pada satu atau dua komoditas saja,” tutur Hendrawan.

Faktor ketiga, ketergantungan eksternal Indonesia khususnya dalam hal keuangan, relatif masih terkendali.

Per April 2022, rasio utang terhadap Gross Domestic Product (GDP) Indonesia berada dalam kisaran 39 persen atau setara dengan RP. 7.040,32 triliun. Sementara itu per Juni 2020, Sri Lanka berada di angka 107 persen dengan tingkat inflasi sekitar 54,6 persen.

Adapun Undang-Undang Keuangan Negara mengatur ambang batas rasio utang terhadap GDP (debt to GDP ratio), yaitu 60 persen dari GDP. Berdasarkan batas tersebut, Indonesia masih berada di bawah ambang batas.

Menanggapi hal tersebut, Hendrawan memaparkan bahwa Indonesia masih harus tetap waspada karena masih menghadapi defisit APBN serta defisit transaksi berjalan.

“Karena penghasilan yang mendadak naik dari sektor komoditas. Kemudian defisit keseimbangan primer. Dibandingkan negara lain, kondisi fiskal kita meski tidak sehat betul, tetapi masih relatif terkendali. Tiga kondisi ini, membuat ekonomi kita mestinya lebih tahan menghadapi guncangan eksternal,” pungkas Hendrawan.

Related Articles

Back to top button