ParentingSeputar Islam

Pendidikan Tidak Langsung untuk Anak


Oleh: Thoriq Aziz (Da’i Solo Raya)

(sumber: freepik.com)

Dalam mendidik dan mengasuh anak, tentu ada banyak cara dan sarana yang bervariasi sesuai dengan kondisi usia, lingkungan, psikologi anak, dan hal lainya. Akan tetapi pendidikan secara umum tetap konstan tegap, yang tidak berubah esensi dan tujuannya. Tujuan utama dari pendidikan menurut perspektif Islam tetaplah menjadikan anak agar menjadi orang yang bertakwa, sehingga tujuan pencipatan manusia dapat tercapai oleh mereka.

Inilah realisasi pengabdian dan penghambaan kepada Tuhan dalam segala maknanya. Tidak peduli seberapa banyak metode dan sarana pendidikan yang berubah, tetapi tujuan itu tetap dan akan tidak berubah. Secara kasat mata, metode dan sarana pendidikan itu bisa berupa pemberian pendidikan, pembelajaran dan bimbingan, nasihat dan arahan, dorongan dan motivasi, pendisiplinan dan mengatur diri, serta menyampaikan saran dan peringatan, dan lain sebagainya.

Hal-hal di atas adalah cara langsung dalam mendidik dan membesarkan anak. Ada pula cara lain, dimana ucapan dan tindakan orang tua dalam mendirik anaknya tidak suguhkan secara langsung, melainkan efeknya muncul pada anak-anak mereka dalam satu kesatuan karakter dan lain-lain.

Cara-cara tidak langsung ini dinilai sangat bermanfaat, layak, dan relatif efektif, serta berpengaruh lebih besar dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Ini adalah jalan yang sunyi dan senyap, akan tetapi memiliki legitimasi yang kuat dan telah dicontohkan oleh makhluk terbaik dari para nabi, rasul, dan orang-orang yang saleh.

Cara tidak langsung yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru, dan tenaga pendidik untuk mendidik anak-anak mereka, adalah sebagai berikut:

  1. Mendoakan mereka agar selalu dalam kondisi baik dan memperoleh hidayah sebelum mereka lahir dan setelah mereka lahir.

Doa adalah salah satu cara termudah dan ringan, baik yang kuat maupun yang lemah bisa melakukannya. Kaya atau miskin orang tua mereka, semua dapat melakukannya. Doa adalah penghujanan rahmat dan kasih sayang Allah yang dicurahkan dengan beberapa kalimat sederhana yang terucap dari lisan disertai dengan ketundukan hati kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa.

Dari Abu Hurairah, RA., ia berkata, Rasulullah, SAW., bersabda: “Manusia paling lemah adalah orang yang paling malas berdoa (kepada Allah). Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil memberi salam.” [HR. Abu Ya’lâ dan Al-Thabrâni].

Mendidik anak dengan mendoakan mereka adalah salah satu wasilah yang telah dipraktikkan oleh orang yang paling mengerti tentang Allah, orang yang paling bijaksana dan yang paling mengetahui tentang seni dan ilmu pendidikan, serta orang yang paling tajam untuk membimbing manusia, yaitu Nabi Muhammad, SAW. Umat Islam dituntut untuk meniru cara Nabi dalam mendidik dan mengasuh anak.

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dengan petunjuk mereka, maka ikutilah petunjuk mereka.” [QS. Al-An’am, Ayat 90].
  1. Memilihkan nama yang baik untuk anak dan mengajarinya arti dari pada namanya tersebut.

Sungguh dalam Islam pun ada aturan dalam hal memberi nama anak. Nama yang diberikan seyogyanya adalah nama yang baik, sesuai dengan syariat dan anjuran Rasulullah, SAW. Hal ini supaya nama yang diberikan oleh orang tua tersbut dapat menjadi pemicu turunnya keberkahan dan menjadi doa terbaik bagi anak.

"(Allah berfirman) Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya." [QS. Maryam, Ayat 7].

Ayat di atas menjelaskan kepada umat Islam bahwa pemberian nama dalam Islam itu sangat penting. Allah SWT sendiri yang telah memberikan Nabi Zakaria seorang anak laki-laki bernama Yahya. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk memberikan nama yang baik bagi anak-anak mereka.

Sebagaimana Sabda Nabi, SAW : "Sesungguhnya di antara kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah dewasa." [HR. Ibnu Najar].
  1. Bersikap adil kepada anak-anak dalam memperlakukan mereka, agar terhindar dari rasa benci dan dengki.

Kebencian adalah penyakit psikologis dan keadaan jiwa yang menyakitkan pelakunya, dan itu bisa menjadi penyebab kesengsaraan manusia, serta mendorongnya kepada perilaku yang salah dan kadang-kadang mendorongnya untuk melakukan kejahatan.

Salah satu sebab yang memunculkan kebencian adalah ketidakadilan. Bagi para orang tua, sudah semestinya untuk berbuat adil di antara anak-anak kalian. Jangan biarkan anak memelihara rasa benci dan iri, gara-gara sikap yang tidak adil dari para orang tua.

  1. Memperlakukan mereka dengan lembut dan baik, memberikan kepada mereka kelonggaran dan belas kasihan, dan tidak ada salahnya juga bersikap keras dan tegas kepada mereka pada waktu tertentu. Akan tetapi, sikap keras dan tegas tersebut harus tetap karena alasan kasih sayang dan untuk tujuan mendidik.

Related Articles

Back to top button