Pendidikan

Omicron Melonjak, Sekolah Jangan Menyerah

Oleh : Lita Edia Harti, S.Psi (Direktur Sekolah RA dan SDIT Amal Mulia Depok)

Jelang akhir tahun 2021, kita sudah mulai mewaspadai kehadiran Omicron di Indonesia. Sisi lain, secara mengejutkan, di awal tahun 2022, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru terkait penyelenggaraan pendidikan, yaitu diperbolehkannya Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 100% dengan syarat-syarat tertentu.

Tentu kebijakan ini mengundang pro kontra, termasuk saya, sebagai direktur sekolah sempat bingung dengan kebijakan tersebut. Akan tetapi saya memahami setiap poin yang dikhawatirkan pemerintah jika PTMT 100% tidak segera dilaksanakan, karena hal tersebut tercermati secara langsung di lapangan. 

Salah satunya adalah fenomena learning loss yang nyata terjadi selama pandemi ini. 

DKI Jakarta lebih dahulu melaksanakan kebijakan tersebut, lalu Kota Depok, tempat sekolah kami berada, menyusul kemudian. Oleh karenanya, sebelum Wali Kota Depok mengeluarkan kebijakan tersebut, kami sudah mempersiapkan dengan matang desain kegiatan belajar mengajar yang sekiranya aman untuk peserta didik.

Pandemi mengajarkan kepada sekolah untuk bersikap adaptif, sigap menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang ada. Dari mulai pembelajaran konvensional, lalu tiba-tiba diharuskan untuk melek teknologi. Setelah melek teknologi, perlu menyesuaikan lagi dengan pembelajaran secara langsung. 

Sayangnya pelajaran berharga dari pandemi ini tidak diikuti dengan baik oleh sebagian sekolah. Di awal pandemi, ada yang tetap mau berjalan dengan cara konvensional. Anak hanya diberi tugas dan tugas. Materi diberikan begitu saja, orangtua yang harus mengajarkan, dan hanya menuntut siswa untuk disiplin mengumpulkan tugas. 

Pun demikian, ketika wacana PTMT 100% ini bergulir, sebagian sekolah menangkap kesempatan ini untuk kembali ke pembelajaran konvensional seperti sebelum pandemi. Jika hal ini diterapkan di sekolah yang memang minim perangkat, tentu wajar terjadi. Akan tetapi yang terjadi adalah, hal ini juga terjadi di sekolah yang lengkap perangkat teknologi dan sumber daya manusianya.

Saat wacana PTMT 100% ini sangat kuat bergulir di masyarakat, seorang orangtua murid menghubungi saya, bermaksud untuk mengkonfirmasi. 

“Apakah sekolah menyelenggarakan hybrid learning?“

Tentu saya menjawab, ya sekolah menyelenggarakan hybrid learning, karena sudah bisa diprediksikan akan ada siswa yang belum bisa masuk ke sekolah, karena keluarganya terpapar, ada komorbid, atau alasan lainnya. 

Ternyata orangtua tersebut merasa khawatir sekolah tidak memberikan hybrid learning karena sekolah kakaknya yang notabene salah satu sekolah elit di kawasan Jabodetabek, menyelenggarakan PTMT 100% wajib tanpa adanya layanan hybrid learning.

Padahal, belajar adalah hak setiap anak.  

Sementara Indonesia belum bebas pandemi. Tentu sudah menjadi tugas sekolah untuk memikirkan desain kegiatan belajar mengajar terbaik yang sesuai dengan kondisi ini.

Sekolah jangan menyerah dengan kembali ke cara mengajar konvensional seperti sebelum pandemi. Bagi sekolah yang memiliki kemampuan untuk berteknologi, mari lanjutkan!

Saya sampaikan kepada para guru, 

“Bapak/ Ibu, ingat dulu bagaimana kita kuliah (untuk generasi lama) menggunakan slide presentasi bermodalkan plastik mika yang kita tuliskan materi di plastik tersebut? Lalu teknologi berkembang hingga kini ada tampilan slide yang sangat menarik. Apakah bisa jika dulu kita berkeras untuk tidak mau mengikuti teknologi, tetap saja ingin menggunakan plastik mika? Tentu tidak, ya? Sayang jika Bapak/ Ibu sudah menguasai digital learning, dan mengalirkan materi melalui project, lalu tidak dikembangkan lebih lanjut”

Perkembangan teknologi selalu merubah kehidupan dunia, demikian pencerahan yang saya dapat ketika melihat tayangan tentang era disrupsi dari Prof Rhenald Kasali. Video tersebut saya putar untuk Bapak dan Ibu guru dengan maksud memberikan pencerahan bahwa keterampilan untuk menggunakan teknologi saat mengajar yang diperoleh di masa pandemi ini, jangan sampai dihentikan dan kembali lagi ke cara mengajar konvensional. 

Toh, Indonesia belum bebas pandemi. Setelah PTMT 100%, kita bisa kembali ke pembelajaran jarak jauh di waktu yang tidak bisa diprediksikan. Kita tidak tahu, apakah Omicron akan terkendali atau tidak? Oleh karenanya, mental para guru perlu disiapkan untuk tetap siap beradaptasi. Kurikulum dan desain kegiatan belajar perlu didesain yang sesuai dengan kondisi PTMT 100% maupun PJJ 100%.

Pandemi belum selesai, kita perlu terus berinovasi agar anak tidak mengalami learning loss lebih buruk, apapun kondisinya. Pemerintah jangan hanya fokus untuk menyelenggarakan PTMT 100%, tetapi bantulah sekolah untuk memiliki panduan yang tepat, seandainya situasi pandemi belum bisa dikendalikan.

Yuk, bersama kita hadapi episode Omicron ini dengan penuh semangat berinovasi. Semangat untuk memberikan hak belajar anak secara penuh. Semangat untuk mencegah learning loss

Jangan mundur dengan meninggalkan teknologi yang sudah dikuasai, tetapi justru kembangkan terus hingga lebih terampil lagi. Rancang kurikulum yang ramah terhadap berbagai situasi, siap PTMT 100 % maupun PJJ 100%, karena belum ada hal yang pasti dikemudian hari.

Related Articles

Back to top button