PendidikanTren

Metaverse vs Tradisional: Persiapan Pendidik Menyambut Era Baru

oleh: Lita Edia Harti, S.Psi (Direktur Sekolah RA dan SDIT Amal Mulia Depok)

Hari Ahad lalu, 13 Februari 2022, saya mengikuti kuliah dokter Amir Zuhdi terkait dampak metaverse pada anak. Tema yang menarik untuk diikuti terkait berseliwerannya tema ini dikaji oleh banyak pihak.

Sebelumnya saya sudah menjawab beberapa pertanyaan dari teh Liza (temubahagia.id) dengan tema yang sama.
Jujur, tadinya mau sebanyak apapun seliweran tema tersebut, saya ngga tertarik untuk ikut nimbrung.

Mengapa?

Karena perkembangan teknologi adalah hal yang akan terjadi. Sebuah video dari Renald Kasali tentang era disrupsi, membuat saya menghayati perubahan teknologi menjadi niscaya dan biasa-biasa saja.

Selain itu, ramai-ramai di awal dan menangkap bahaya dari sebuah perubahan teknologi selalu terjadi, tetapi kemudian semua menyesuaikan diri. Bagi yang tidak mau mengikuti pun, hal tersebut adalah pilihan.

Akan tetapi, karena saya mengelola sekolah dan saya juga punya anak-anak yang tentu saja menjadi bagian generasi yang dipercepat untuk menggunakan teknologi di kala pandemi, akhirnya membuat saya merasa perlu untuk cukup tahu tentang hal ini.

Dalam hati saya terbetik,

'duh ini aja yang dunia digital biasa, rasanya masih tergugup dan tergagap, eh sudah ada yang baru lagi.'

Mulailah saya sedikit berpetualang terkait tema ini, dimulai dengan ikut kuliah dokter Amir Zuhdi, lanjut dengan menyimak video dari Prof Budi Raharjo.

Video dari Prof Budi Raharjo ini sangat jelas, bahwa kita membicarakan hal yang sebenarnya belum diketahui persis seperti apa.

Lalu dari kuliah Dokter Amir Zuhdi saya jadi tahu dampaknya untuk otak dan batasan yang perlu diambil. Untuk detil materinya tentu silakan teman-teman mengikuti langsung kuliahnya ya.

Saya mau menarik kesimpulan saja dari jawaban pertanyaan saya ke dokter Amir.

“Dok dalam kondisi ekstrem tentu dampaknya sangat buruk, bisa sampai halusinasi. Jadi seperti apa kadar cukup dan ekstrem penggunaan metaverse tersebut?”

Singkat kata, dokter Amir menyampaikan bahwa ukurannya masih sama dengan penggunaan gawai, atau yang sudah ditetapkan oleh para psikiater anak terkait gawai dan dunia digital.

Nah, oleh karenanya, di tengah kebingungan terkait metaverse itu sendiri, ditambah dengan kondisi yang sebenarnya sama-sama belum tahu persis, seperti yang disampaikan Prof Budi, maka sebagai pendidik mari kita siapkan pijakannya saja.

Apakah itu?

Pertama

Adanya struktur dalam keluarga, keteraturan dan batasan yang jelas sangat penting untuk menghadapi kehidupan, apapun bentuk dunianya. Batasannya baik dalam bentuk waktu maupun konten. Sepakati dengan anak.

Kedua

Jangan sampai luput stimulasi sensori motorik anak. Semakin terintegrasi sensori motorik anak, semakin optimal tumbuh kembang anak.

Ketika anak usia dini habis sehari-harinya di dunia maya, terlebih nanti di era metaverse yang secara pengalaman (pengalaman sensori dan emosinya) sama dengan dunia nyata, maka kita perlu imbangi dengan aktivitas yang menyentuh seluruh aspek perkembangan anak secara utuh di dunia nyata.

Inilah PR untuk pendidik dalam menyambut era baru. Fokus pada stimulasi tumbuh kembang. Oleh karenanya saya sangat terbantu dengan kreativitas tanpa batas dari para guru RA Amal Mulia, misalnya saja pekan tradisional.

Pada pekan tradisional, anak mendapat banyak stimulasi. Walau pandemi, tak membuat para guru berkecil hati dan kehabisan ide untuk stimulasi. Melalui permainan tradisional, sensori motoriknya sangat terstimulasi. Pun demikian dengan kognitif, sosial, dan emosi.

Oleh karenanya memang PTM walau terbatas selalu dirindukan ya, baik untuk guru dan siswa.

Akan tetapi di tengah gelombang ketiga ini pun, saya yakin guru pantang menyerah karena sudah teruji di awal pandemi. Walau PJJ fokusnya sama stimulasi utuh aspek perkembangannya,

Teknologi memang tidak bisa ditolak karena inilah cara manusia mempermudah hidupnya.

Walaupun demikian, bukan berarti kita menjadi pasif untuk mencegah hal yang buruk. Berbagai macam aktivitas bisa diperkenalkan pada anak, termasuk juga permainan tradisional.

Yuk, tetap bahagia menyambut era yang tak bisa diduga, siapkan pijakan pengasuhan yang kokoh agar anak dapat menyesuaikan diri dengan baik.

Madinaworld.id

Related Articles

Back to top button