BeritaGaya HidupTren

Fenomena Sudirman dan Budaya Populer

Madinaworld.id – Kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta, akhir-akhir ini tengah menjadi perbincangan hangat. Pasalnya, kawasan yang semula dikenal sebagai kawasan pusat bisnis itu, kini makin ramai didatangi oleh remaja-remaja yang datang sekadar untuk bermain atau menghabiskan waktu. Khususnya pada akhir pekan.

Makna SCBD dari Sudirman Central Business District kemudian diplesetkan menjadi Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok. Sebab, banyak warga yang berasal dari pinggiran Kota Jakarta yang datang untuk nongkrong di kawasan tersebut.

Direktur Eksekutif Center for Youth and Population Research (CYPR) Dedek Prayudi mengungkapkan, fenomena yang terjadi di kawasan Sudirman merupakan bentuk pop culture atau yang biasa disebut juga dengan istilah budaya populer.

“Yang kita bisa lihat dari mereka ini kan pop culture nya aja. Bahwa budaya nongkrong di Jakarta, di Sudirman, menjadi sebuah pop culture buat anak-anak Depok. Sesuatu yang sangat populer gitu di kalangan mereka, bahkan ada fashion week nya segala,” ujar Dedek Prayudi.

Dedek melihat bahwa fenomena ini bisa berdampak buruk, tapi bisa juga memberikan dampak yang justru malah positif. Salah satunya, tren yang terjadi merupakan bentuk pemanfaatan ruang-ruang publik di Jakarta oleh masyarakat, untuk mengekspresikan gaya mereka melalui gelaran Citayam Fashion Week (CFW).

“Cuma ini akan menguat. Jadi gua pikir kita harus brace yourself, siap-siap aja bahwa fenomena ini akan menguat,” ungkap mantan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin tersebut.

Menurut Dedek, semakin membaiknya moda transportasi serta infrastuktur membuat batasan yang ada antara penduduk Jakarta dan penduduk kota di sekelilingnya, seperti Depok, Bogor, serta Tangerang, akan semakin menipis.

“Transportasi semakin baik antarkota, apalagi nanti akan ada LRT. Penduduk Jakarta dan surrounding nya ini batasannya akan semakin sedikit, dan kalau dalam bahasa demografi ini sebutannya mega urban region,” kata Dedek.

Mega urban region yang merupakan kondisi dua kota yang terhubung oleh jalur transportasi yang efektif, menyebabkan wilayah di koridornya berkembang pesat. Mega urban region juga cenderung menyatukan dua kota utamanya secara fisikal.

Pandangan Dedek tersebut sesuai dengan pernyataan dari salah satu pengujung CFW.

“Aku kesini naik kereta. Akses transportasinya gampang, biayanya juga murah,” ujar Hikmah, remaja asal Kalideres yang pada Sabtu (23/7) lalu mengunjungi kawasan Sudirman.

Dari sudut pandang pengguna jasa, dengan membaiknya sarana prasarana serta infrastruktur, dapat meningkatkan mobilitas penduduk. Dalam waktu yang bersamaan, juga dapat menekan harga transportasi bagi para pengguna.

“Ini meningkatkan interaksi. Dulu zaman 90-an sampai awal 2000-an kita belajar globalisasi. Di sana kita mendengar bahwa interaksi antarmanusia kini sudah tidak lagi terlalu terbatasi oleh border between countries. Ini yang kita maksud dengan kemudahan interaksi itu semakin lama, levelnya semakin mikro. Dan ketika levelnya semakin mikro, interaksi kita dengan orang yang jauh itu semakin lama semakin mudah,“ ujar Dedek.

Dedek juga menjelaskan, ketergantungan Jakarta pada daerah lain di sekitarnya akan semakin menguat. Dari keterkaitan secara sosial, hingga keterkaitan budaya.

“Lama-lama gaya mereka (masyarakat Citayam dan sekitarnya yang nongkrong di Sudirman) dengan gaya anak Jakarta itu akan semakin mirip. Malah kalau prediksi gua, ya, mereka akan bergaul sama anak Jakarta lama-lama,” pungkas Dedek.

Related Articles

Back to top button