ArtikelSeputar Islam

Empat Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Sobat Madina sudah tahu? Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah. Hal ini terjadi karena bulan Dzulhijjah memiliki berbagai keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriah, loh.

Bahkan saking mulianya bulan Dzulhijjah, ada ibadah yang disyariatkan secara khusus untuk dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

Mengutip dari laman resmi MUI, berikut empat keutamaan bulan Dzulhijjah yang bisa Sobat Madina ketahui.

Ibadah di 10 hari pertama

Hadis riwayat Imam Ahmad:

“Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 bulan Al Adha (bulan Dzulhijjah), dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah Hari Raya Idul Adha.” (HR Ahmad)

Memperbanyak amal baik seperti berdzikir, bersedekah, dan lainnya, sangat dianjurkan untuk dilakukan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini terjadi karena Allah SWT melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang melakukan amal baik di bulan haram ini.

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘Anhuma, dari Rasulullah bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, disahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Kurban

Ibadah kurban dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, yakni pada tanggal 10 Dzulhijjah. Kurban merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan untuk dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah.

Seperti firman Allah dalam Surah Al-Kautsar :

“Maka shalatlah kamu untuk Tuhanmu dan berkurbanlah!” (Qs. 108: 2)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang shalat seperti kita shalat, dan berkurban seperti kita berkurban, maka sungguh dia telah mengerjakan kurban dengan benar. Dan barangsiapa yang menyembelih kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha, maka kurbannya tidak sah.” (HR. Al Bukhari)

Salah satu bulan haram yang disebutkan Allah dalam Alquran

Dalam Alquran, terdapat empat bulan haram yang disebutkan oleh Allah. Empat bulan tersebut di antaranya Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, serta Rajab.

Mengutip dari republika.co.id, terdapat dua alasan mengapa Allah SWT menyebut empat bulan tersebut sebagai bulan haram menurut Al-Qodhi Abu Ya’la.

Pertama, pada bulan itu diharamkan berbagai pembunuhan atau perbuatan keji lainnya. Kedua, pada bulan itu pula diharamkan melakukan tindakan dan perbuatan haram.

Karena kemuliaan tersebut Allah lebih menekankan perintah ini jika dibandingkan dengan bulan lainnya. Sebaliknya, pada bulan haram Allah menganjurkan untuk lebih memperbanyak perbuatan baik dan beramal saleh.

Seperti yang terdapat dalam Surah At-Taubah, Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS 9:36)

Dalam ayat di atas Allah juga memerintahkan kita untuk tidak melakukan tindakan-tindakan zalim, khususnya di empat bulan yang suci tersebut.

Haji bagi yang mampu

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Karena termasuk dalam rukun Islam, haji merupakan ibadah yang wajib ditunaikan bagi umat Muslim yang mampu.

Dalam surah Ali-Imran Allah SWT berfirman:

"...Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...” (QS. 3: 97).

Mengutip buku 100 Tanya Jawab Haji dan Umrah karangan Yusuf Al Qaradhawi dari laman liputan6.com, makna dari ‘sanggup’ dan ‘perjalanan’ yang dimaksud ialah perbekalan dan transportasi.

Artinya, mereka yang akan melaksanakan ibadah haji harus mampu menyiapkan bekal yang cukup selama dirinya bepergian dan tinggal di Tanah Suci.

Berbagai hadis sahih menunjukkan keutamaan ibadah haji dan umrah. Rasulullah SAW bersabda:

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“.

Meskipun demikian, karena ibadah haji memerlukan persiapan fisik dan finansial yang tidak mudah,

Madinaworld.id

Related Articles

Back to top button