Gaya HidupParenting

Cara Parenting yang Baik ala Rasulullah SAW

Beragam cara dilakukan para orang tua agar anaknya bisa tumbuh dengan memiliki budi pekerti dan berguna untuk orang lain. Kasih sayang yang diberikan kepada anaknya memang tak usah diragukan lagi. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban setiap anak untuk berbakti dan menyayangi orang tuanya.

Begitupun dengan orang tua, sudah seharusnya menjaga anak-anaknya. Anak merupakan anugerah dan titipan dari Allah SWT yang diberikan pada orang tua, sehingga sudah seharusnya orang tua memberikan kasih sayang, mendidik, dan senantiasa mendoakannya.

Kesalahan pada pola pengasuhan akan memengaruhi mental si kecil. Maka dari itu, orang tua perlu mengetahui cara parenting sesuai ajaran agama Islam. Berikut cara parenting yang baik ala Rasulullah SAW dikutip dari Pohontomat.com.

Membiarkan anak bermain

Kita semua pasti paham, jika dunia anak kecil hanya bermain. Dalam Riwayat Rasulullah SAW tidak pernah melarang anak-anak bermain.

Dalam hadits disebutkan Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku dahulu pernah bermain boneka di sisi Nabi . Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasululah  masuk dalam rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku.” (HR. Bukhari).

Tidak marah saat anak tak menuruti perintah

Diceritakan bahwa Anas Radiallahu ‘anhu saat berumur 8 tahun dititipkan oleh Ibunya untuk melayani Rasulullah ﷺ.

Anas berkata: “Aku mengabdi pada Rasulullah ﷺ sepuluh tahun lamanya, tidak pernah sekalipun beliau memukul, mencaci atau berwajam masam kepadaku.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2001, juz 3, h. 399) 

Riwayat ini menunjukkan bahwa Sayyidina Anas adalah anak kecil yang memiliki dunianya sendiri, gemar bermain dan bersenang-senang. Andaipun disuruh melakukan sesuatu, tanpa segan ia mengatakan, “tidak”, meski yang menyuruhnya adalah Rasulullah ﷺ. Ini bukan hal yang aneh, karena begitulah anak kecil.

Yang menarik di sini adalah cara bersikap Rasulullah ﷺ. Mendengar kalimat, “aku tidak akan pergi melakukannya,” beliau tidak menampakkan kemarahan, berwajah masam dan menghardiknya dengan keras, tapi meninggalkannya. Baru kemudian, ketika beliau menjumpai Sayyidina Anas di pasar, beliau memegang tungkuknya dan berkata, “Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi).

Anas berkata, “Aku melayani Rasulullah ﷺ shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Tidak semua pekerjaanku sesuai dengan perintah beliau, (tapi) beliau tidak pernah berkata kepadaku (karena ketidak-becusanku) “ah/dasar”, dan tidak pernah (juga) berkata padaku, “kenapa kau lakukan ini?” dan “kenapa tidak kau lakukan (seperti) ini?”

Bicara sepantaran dengan anak

Mensejajarkan dengan anak ketika berbicara. Cara ini sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW sejak dahulu. Tujuan dari hal ini adalah agar anak merasa nyaman dan tak merasa dihakimi. Apalagi saat kita menegur, atau menasehati anak, ini sangat penting dilakukan.

Sering menggendong, mencium, dan memeluk anak

Ketika orang tua sering memeluk dan mencium anak, hal ini akan berdampak positif. Rasulullah SAW juga mengajarkan demikian. Ketika mengunjungi cucunya, Rasulullah SAW selalu mencium dan memeluk mereka satu per satu.

Aqra’ bin Habis, pemuka Bani Tamim mengaku, “Demi Allah, aku mempunyai 10 orang anak, tetapi tak satu pun kuciumi di antara mereka.” Nabi pun memandangnya dan berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi, ia tidak akan dikasihi”.

Mengajari ilmu Tauhid dan cinta pada 3 hal

Ilmu tauhid berarti ilmu yang mengajarkan tentang Ketuhanan. Dalam sebuah Riwayat disebutkan:

Dijelaskan dari Ibn Abbas, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman).

Rasulullah SAW menekankan agar anak-anak dididik dengan tiga hal, yaitu mencintai Nabi, mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al Quran. Hal ini perlu dilakukan agar anak-anak memiliki role model yang tepat yaitu Rasulullah SAW, dan selalu berpegangan pada Al Quran dalam hidupnya.

Mengayomi anak dengan baik

Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa. Maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku.” Kemudian Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau.” (HR Muslim).

Allah sudah menjanjikan bahwa orang tua yang merawat dan mengayomi anak perempuannya dengan baik, maka Allah akan tempatkan bersama Rasulullah SAW di surga nanti.

Mengajari kejujuran

Rasulullah SAW selalu mengajarkan kejujuran kepada anak-anaknya. Beliau tak segan untuk memberi hukuman apabila mereka (anak-anak) berdusta.

Dikisahkan bahwa suatu saat Abdullah bin Busr disuruh ibunya untuk menghantarkan setandan anggur kepada Rasulullah . Di tengah perjalanan, Abdullah bin Busr memakan beberapa anggur tersebut sebelum diserahkan kepada Rasulullah . Ketika Abdullah bin Busr menghadap Rasulullah , Rasulullah  menjewer telinganya dan menasihatinya agar tidak khianat lagi dengan apa yang dipesankan ibunya.

Tidak membeda-bedakan

Rasulullah SAW melarang membeda-bedakan dalam mengasuh anak.

Dari Nu’man bin Basyir, beliau pernah datang kepada Rasulullah  lalu berkata, “Sungguh, aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah .” Lalu Rasulullah  bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah  bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.”  Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.” (HR. Bukhari).

Menjaganya dari perbuatan dosa

Hal yang sering luput dalam mengasuh anak adalah menjaganya dari perbuatan dosa. Jangan pula menggampangkan perbuatan dosa.

Dikisahkan, suatu waktu Rasulullah ﷺ bersama dengan Fadhl bin Abbas naik unta. Tiba-tiba ada seorang cantik yang menghampiri Rasulullah ﷺ dengan maksud hendak menanyakan suatu persoalan agama. Ketika Fadhl memandangi perempuan tersebut, Rasulullah ﷺ langsung memerintahkannya untuk memalingkan wajahnya. Alasannya, Rasulullah ﷺ tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena pada saat itu Fadhl bin Abbas baru saja menginjak usia baligh.

Saat ini para orang tua harus mewaspadai penggunaan smarthphone pada anak. Ada banyak kemungkinan anak-anak menggunakannya untuk perbuatan dosa.

Mengajari berpuasa

Mengajari anak berpuasa sangat penting, jangan menyepelekan berpuasa. Karena, jika kita tak melaksanakan puasa Ramadhan saja kita harus menggantinya di bulan-bulan berikutnya.

Diriwayatkan dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, salah satu perempuan shalehah sahabat rasul. Ia berkata: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mengajari solat, doa, dan dzikir

Cara parenting yang baik ala Rasulullah SAW selanjutnya adalah mengajari anak untuk solat, doa, dan dzikir. Contohnya ayah harus mengajak anaknya ke masjid untuk solat berjamaah. Kemudian ajarkan doa-doa yang biasa dilakukan seperti doa makan, doa tidur, dan lain sebagainya. Dan ajarkan dzikir untuk melindungi gangguan jin.

Rasulullah ﷺ shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad).

Mengajari akhlak

Banyak orang yang berilmu tinggi namun tak memiliki akhlak yang baik. Maka kita harus mengajarkan anak-anak kita dengan dasar dari perilaku yang baik yaitu akhlak.

Kebaikan seseorang dinilai dari 2 hal yakni agama dan akhlaknya. Rasulullah ﷺ shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Mengajari batasan pergaulan

Sebagai orang tua kita harus mengajari Batasan dalam pergaulan. Jangan sampai anak kita takt ahu Batasan-batasan bergaul dengan lawan jenis. Salah dalam memberikan ajaran tersebut, anak kita dapat terjerumus kepada dosa bahkan zina.

Mengajari anak azan

Jika kita memiliki anak laki-laki maka kita harus mengajarkan anak kita untuk azan. Rasulullah SAW pernah mengajarkan seorang remaja untuk azan, maka anjuran ini harus kita lakukan juga kepada anak laki-laki kita.

Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.’ Beliau bersabda demikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan dan bersabda kepadanya: Tentu engkau sudah hafal bukan?’ Abu Mahdzurah tidak mencukur rambutnya karena Rasulullah ﷺ waktu itu mengusapnya. (HR. Ahmad, Musnadul Makkiyah).

Memberi hadiah

Siapa yang tak suka hadiah? Anak-anak sangat menyukai hadiah, maka Rasulullah SAW mengajari kita untuk memberi hadiah kepada anak-anak.

Rasulullah ﷺ pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, Al Abbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda: “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini. Mereka pun berlomba lari menuju tempat Rasulullah ﷺ berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung dan ada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah ﷺ menciumi mereka semua serta menepati janji kepada mereka.” (Majmu’uz Zawaid).

Bermain bersama

“Aku masih ingat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa semburan air yang beliau semburkan ke wajahku. Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan beliau mengambil air dari ember.” (HR. Bukhari no. 77).

Maksud dari hadits di atas adalah Rasulullah SAW senang bermain bersama anak-anak. Hal ini juga harus kita contoh, jadilah teman bermain untuk anak-anak kita.

Tidak memisahkan anak dan ibunya

Jika terjadi sebuah perceraian, seringkali anak disulitkan untuk bertemu ibunya. Abu Ayyub mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, 

“Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi).

Mengajarkan anak hanya bergantuk pada Allah SWT

Sebagai anak yang masih labil, seringkali belum tahu harus bergantung pada siapa. Maka sebagai orang tua kita harus mengajarkan untuk menyerahkan segala keputusan kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran: peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusia bersatu-padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu.

Mengajari berpakaian

Cara parenting yang baik ala Rasulullah SAW yang terakhir adalah dengan mengajari anak-anak kita berpakaian. Karena sebagai orang tua kita juga harus memberi Batasan berpakaian yang diajarkan oleh islam, jangan sampai anak-anak kita dengan mudahnya menampakkan auratnya.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanita kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (al-Ahzab: 59).

Madinaworld.id

Related Articles

Back to top button