ArtikelGaya HidupSeputar Islam

Berpakaian Necis dalam Islam, Cukup kah?

Pernah kah di benak Sobat Madina terlintas pemikiran, ‘apakah berpakaian necis saja dalam Islam itu cukup?’. Necis itu sendiri berarti bersih dan rapi.

Tren dan gaya berpakaian dewasa ini terus berkembang. Tentunya perkembangan pakaian ini juga turut dirasakan oleh kaum muslim yang turut ingin tampil berpakaian necis. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyaknya pilihan model pakaian yang terlihat unik dan menarik.

Mengutip buku karangan Ahmad Hatta dkk yang berjudul Bimbingan Islam untuk Hidup Muslim: Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya dari Lahir sampai Mati Berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, berikut beberapa ketentuan dalam berpakaian yang telah diatur dalam Islam:

Tidak berlebih-lebihan

Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk berpakaian sesuai dengan keperluan dan kemampuannya. Berlebih-lebihan dalam membelanjakan uang hanya untuk pakaian yang mahal, hingga menyebabkan banyak kebutuhan lain menjadi tidak terpenuhi, merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan hadis Nasa’i, dimana Rasulullah SAW bersabda:

“Makan, bersedekah dan pakailah pakaian, tanpa berlebih-lebihan dan kesombongan.”
Tidak bertujuan untuk pamer atau sombong

Dalam berpakaian, Sobat Madina juga harus menjauhkan diri dari niat pamer atau sombong. Sebab, perbuatan tersebut tidak disukai oleh Allah SWT.

Dalam hadis Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa:

“Tidak akan masuk surga, orang yang padanya terdapat kesombongan (walau hanya) sebesar biji dzarrah.” 

Contoh berpakaian dengan tujuan pamer atau sombong yang dilarang dalam Islam adalah menggunakan pakaian mewah atau mencolok, sehingga menjadi perhatian bagi orang-orang disekitarnya.

Tidak mengenakan perhiasan emas dan sutra untuk laki-laki

Dilarangnya para lelaki untuk mengenakan perhiasan berbahan emas dan kain sutra, karena Allah menciptakan kedua hal tersebut khusus untuk para perempuan.

Dalam sebuah hadis Hasan Shahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa:

“Diharamkan menggunakan sutra bagi kaum lelaki dari umatku, dan dihalalkan bagi kaum wanita dari mereka.” 

Pengharaman emas berlaku untuk seluruh barang termasuk cincin, jam tangan, gelang, dan lainnya sebagainya. Sementara itu, penggunaan sutra masih diperbolehkan, namun dalam jumlah yang sedikit.

Memakai pakaian yang menutup aurat

Menutup aurat secara sempurna tidak hanya sekadar menutupi anggota tubuh dengan pakaian semata, melainkan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Jangan sampai pakaian yang dikenakan Sobat Madina terlalu ketat, sehingga malah memperlihatkan lekuk tubuh atau terlalu tipis sehingga masih belum menutup aurat.

Rasulullah SAW dalam suatu hadist riwayat Muslim pernah menjelaskan dua golongan penduduk neraka yang diantaranya adalah

“Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang (karena auratnya nampak).”
Tidak mengenakan pakaian yang menyerupai lawan jenis

Menyerupai lawan jenis termasuk dalam bentuk kerusakan moral. Laki-laki dan perempuan telah memiliki pakaian yang identik dan tidak boleh dipakai oleh lawan jenis.

Laki-laki tidak boleh menggunakan pakaian identik dengan perempuan, begitupun sebaliknya.

Dalam suatu hadist riwayat Abu Dawud, Aisyah pernah berkata bahwa:

“Rasulullah SAW melaknat orang yang meniru laki-laki dari kaum perempuan.”
Tidak mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian orang kafir

Dalam sebuah hadist riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW pernah bersabda:

 “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” 

Yang dilarang dalam hal ini termasuk pakaian dengan simbol agama atau kepercayaan lain, serta aksesoris yang biasa digunakan dalam ibadah atau ritual keagamaan lain.

Pada dasarnya, umat muslim diperbolehkan untuk memakai pakaian yang disukainya. Asalkan sesuai dengan ketentuan yang telah Allah SWT tetapkan. Allah SWT senang melihat hamba-hambanya berpakaian bersih, baik, dan indah, karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk tanda syukur terhadap karunia yang telah Allah berikan.

Madinaworld.id

 

Related Articles

Back to top button