Seputar IslamTanya Jawab

Bagaimana Pandangan Islam Tentang 4O Harian Untuk Orang Yang Meninggal ?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan izin bertanya, banyak orang yang mempermasalahkan hitungan hari dalam acara tahlilan. Sebenarnya bagaimana pandangan 40 harian dalam islam?

Akhi fillah, pertanyaannya sangat menarik, semoga jawaban ini dapat memberikan pemahaman yang utuh dalam memahami permasalahan ini.

Urusan tahlil dalam bahasa syariat adalah ihdaaut tsawaab (menghadiahkan pahala) untuk orang yang sudah meninggal, dalam hal ini berbeda pendapat para ulama’. Akan tetapi kebanyakan dari pendapat para ulama’ menghadiahkan pahala untuk orang yang meninggal itu sampai pahalanya.

Di kalangan masyarakat kita di Indonesia memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadiahkan pahala untuk orang yang sudah meninggal, baik itu orang tuanya maupun keluarganya yang lain. Ada yang mengkhotamkan Al-Qur’an dan ada juga yang membaca bacaan khusus yang diambil dari bagian ayat Al-Qur’an, kedua cara ini tetap sah dan pahalanya sampai kepada yang diniatkan.

Untuk pertanyaan masalah 40 harian di dalam islam tidak ada ketentuan hitungan hari yang khusus dalam menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal. Hanya saja kebiasaan masyarakat yang cenderung menjadi rujukan banyak orang. Seperti hitungan hari  3, 7, 9, 40, 100, dan 1,000. Ini semua adalah hitungan kebiasaan masyarakat kita di Indonesia.

Dalam menghadiahkan pahala untuk orang yang sudah meninggal dunia diperbolehkan kapan saja, waktunya tidak terbatas. Dan terkadang ada juga sebagian orang mempermasalahkan makanan yang disajikan oleh keluarga yang meninggal, dimana seharusnya tetangga memberikan makanan untuk keluarga yang sedang berduka bukan malah sebaliknya.

Printah dari Rasulullah SAW untuk membuatkan makanan bagi keluarganya ja’far ketika ia meninggal, beliau bersabda:

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ (رواه الترمذي)

“Masakkan makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR. Tirmizi)

Sunnah bagi tetangga memberikan makanan untuk keluarga yang meninggal, namun perintah ini bukan menjadi larangan bagi keluarga yang meninggal untuk bersedekah dengan makanan ketika ada tetangga yang datang kerumahnya. Terlebih tradisi kita di Indonesia setiap ada orang yang meninggal dengan spontan tetangga atau masyarakat pada umumnya datang bertakziyah membawa makanan, uang, beras, dan bahan makanan yang lain untuk diberikan kepada keluarga yang meninggal.

Intinya adalah setiap ucapan atau perbuatan yang baik diniatkan kepada orang yang meninggal maka pahalanya tetap sampai, dan untuk hitungan hari dalam menghadiahkan pahala bagi orang yang meninggal tidak ada batasan waktu tertentu dalam islam.

Wallahu a’lam…

Related Articles

Back to top button